PETANG telah merembang. Langit berkabut, kelabu dan kotor. Debu-debu dari kibasan lesat kendaraan berpacu naik seolah ingin mengejar gerak matahari. Membumbung. Berkelebut mempertajam cuaca. Bergulung-gulung dengan angin. Kemudian mungkin membaur dengan rangkak waktu yang terus melaju. Sebentar lagi senja, dan malam akan segera jatuh di kota itu.
Sanjo duduk di bangku halte, di tepi jalan yang sibuk oleh lalu lintas, di kota yang cukup ramai, di antara orang-orang yang tak dikenalnya, mungkin saja mereka tengah menunggu bis atau angkot menuju
jurusan masing-masing. Sanjo menatap lurus ke depan. Matanya tenang membulat nyaris tanpa kedip. Pandangannya tepat berhenti pada deretan ruko-ruko yang berjejer rapi di seberang jalan. Ruko-ruko yang berdiri kukuh dengan warna cat yang seragam; merah bata. Yang rata-rata dimiliki oleh orang-orang China. Orang-orang China yang telah membeli petak-petak tersebut dengan harga yang tentu sangat mahal.
Sejenak Sanjo menarik napas keras. Mengeluarkan sehelai tisu dari dalam tas kecilnya, lalu membersihkan wajahnya yang tiba-tiba terasa penuh debu. Orang-orang yang duduk di halte menunggu bis atau angkot mulai bertukar ganti. Setiap seseorang pergi, selalu saja setelahnya ada yang datang. Matahari makin naik. Sanjo tidak peduli. Juga pada orang-orang yang kadang memerhatikan dirinya. Ia terus saja menatap ke ruko-ruko di seberang jalan. Pemandangan yang baginya mendadak terasa asing. Seolah dari kedalaman tatapannya itu sumur-sumur aneh bermunculan. Liang-liang yang menganga. Menyembur-nyembur. Sanjo ingin masuk. Menceburkan diri dan mandi-mandi. Bergapaian di dinding-dindingnya; masa lalu! Kembali Sanjo menarik napas keras.
Dapatkah kita bermimpi dari masa lalu? Sanjo berdiri. Tapi tidak meninggalkan halte itu. Ia berusaha memperjelas pandang, melihat celah-celah yang terhalang, ke arah ruko-ruko di seberang jalan. Di sela-sela kendaraan yang berseliweran, tiba-tiba jejeran tersebut terlihat seolah kotak-kotak kertas yang disusun. Rapi dan mudah. Seperti tidak ada persoalan. Juga beban.
Segalanya terlihat sempurna, nyaris tanpa cela, juga nyaris tanpa masa lalu, hanya masa depan dan harapan. Ya, masa depan dan harapan! Harapan yang dibangun orang-orang China yang telah membeli ruko-ruko itu.
Sanjo kembali duduk. Acuh pada gebalau lalu lintas. Pada kehidupan yang terus berjalan. Pada orang-orang di halte itu yang mulai memperlihatkan tatapan heran. Pikirannya hanya satu; ruko-ruko di seberang jalan itu. Dan ada yang tidak dapat didustainya tiba-tiba, dadanya terasa berdenyut-denyut. Ngilu. Selalu di ujung senja yang sama. Ketika orang-orang berpapasan hanya untuk mengucap selamat tinggal, tapi akan ke manakah mereka? Dan kita selalu larut dalam kisah lama. Seolah kita hidup dengan cinta yang dirantai *).
Tiba-tiba seekor kupu-kupu melintas. Warnanya hitam berbintik-bintik putih. Terbang berputar-putar di sekitar Sanjo. Berkeliling. Kemudian hinggap di bahu Sanjo. Sanjo tidak habis pikir, mengapa seekor kupu-kupu masih ada di halte itu, di tengah kota yang sesak, lalu lintas yang bising, arus hidup penuh perpacuan dan keras.
Kupu-kupu. Sanjo ingat Bayu. Dan masa lalu. Dan Bayu.
"Kupu-kupu. Aku ingin menangkapnya. Kupu-kupu...."
***
Sembilan tahun yang lalu, sebelum Sanjo duduk di bangku halte itu, ia adalah seorang anak berusia sebelas tahun. Gadis kecil kelas lima SD dengan rambut dikepang. Seorang yang riang sebagaimana layaknya kanak-kanak. Bersama kedua orang tuanya, Sanjo tinggal di tempat itu (satuan dari beberapa buah rumah sederhana, rumah-rumah papan, rumah semi permanen yang mereka sebut kompleks). Kompleks tempat Sanjo lahir. Tumbuh. Mendayung usia. Dan kompleks yang ia rasakan bagai desanya sendiri, atau kampungnya, karena menurut cerita orang tuanya, kampungnya jauh di Sumatra dan ia belum pernah ke sana.
Meskipun kompleks tempat mereka tinggal itu dekat ke jantung kota, suasana nyaman dan asri belum terkalahkan oleh peradaban. Pohon-pohon besar, ragam tanaman dan berbagai bunga-bunga yang menghiasi tiap perkarangan rumah, membuat kompleks terasa sangat teduh. Sisa-sisa embun di tepi-tepi daun. Matahari di sela pepohonan. Suara kanak-kanak menangis. Dan gerombolan kupu-kupu menyerbu bunga-bunga adalah sebuah sketsa alam yang masih terasa di tengah-tengah gegas deru kota.
Kupu-kupu? Sanjo sangat suka berburu kupu-kupu dengan Bayu. Teman lelaki yang sebaya dengannya. Mereka berteman baik. Setiap sore akan terlihat mereka yang selalu berdua-dua. Berjalan-jalan. Berkeliling kompleks. Berlari dan bernyanyi-nyanyi. Sampai senja. Berburu kupu-kupu.
"Kupu-kupu. Aku ingin menangkapnya. Kupu-kupu...."
Lalu Sanjo akan berlarian mengejar kupu-kupu yang tiba-tiba beterbangan meninggalkan bunga-bunga. Dari pohon yang satu ke pohon yang lain. Dari kembang yang satu ke kembang yang lain. Kadang ia tersandung, terjatuh, dan tidak jarang pula sampai dengkulnya luka. Bayu selalu tidak sanggup melihat Sanjo bersedih. Begitu saja dengan tangkas ia akan segera menghibur Sanjo yang meringis kesakitan.
Mengusap lukanya. Memberikan sebuah senyuman. Lalu segera menangkapkan kupu-kupu buat Sanjo.
Penuh rasa kagum Sanjo memerhatikan sayap kupu-kupu yang cantik itu. Kadang Sanjo berbicara sendiri seolah-olah kupu-kupu itu sedang mendengarnya. Bercerita dan tertawa seakan-akan kupu-kupu itu mengerti
maksudnya. Setelah puas bercakap-cakap, Sanjo akan melepaskannya kembali. Kemudian Bayu akan menangkapkan kupu-kupu yang lain. Lalu Sanjo melepaskan lagi setelahnya. Begitu selalu dalam senyum yang riang. Gembira yang girang. Berulang-ulang tanpa ada kebosanan.
Sepanjang sore. Sepanjang kompleks yang mereka susuri.
"Bayu, bisakah kita selamanya seperti ini? Bersama-sama, bermain, menangkap kupu-kupu," ucap Sanjo suatu ketika dengan bahasa bocah yang lugu.
Bayu hanya mengangguk. Pasti dan berbinar.
"Meskipun nanti kita sudah besar?"
Lagi-lagi Bayu hanya mengangguk. Lalu setangkai melati mekar ia petik dan diberikannya pada Sanjo.
"Terima kasih, Bayu," gumam Sanjo malu.
Demikianlah hari-hari mereka jalani dengan ketulusan hati kanak-kanak yang suci. Hidup mereka susuri dengan dada polos yang berdegup. Indah.
Merekah. Dan damai. Sampai suatu hari terjadi sebuah peristiwa yang tidak mereka pahami sama sekali.
Tiba-tiba segerombolan petugas keamanan dengan pakaian seragam, dan beberapa orang yang berdasi datang ke kompleks mereka. Seiring dengan itu, juga bersusulan beberapa alat-alat berat yang siap meruntuh-habiskan apa pun yang menghadang di depan. Orang-orang dewasa di kompleks, termasuk ayah Sanjo, segera menemui tamu-tamu aneh itu.
Sanjo melihat mereka bercakap-cakap. Mungkin membicarakan sesuatu yang penting. Sesuatu yang belum pantas diberi tahu pada anak-anak seusia Sanjo. Kemudian percakapan mereka menjadi tegang, ribut dan keras, sama sekali tidak bersahabat.
Sanjo tidak mengerti apa yang terjadi. Ketika setelahnya mereka saling menuding, memaki, juga saling mendorong dengan kasar, Sanjo tidak dapat menerjemahkan dengan pikiran kanak-kanaknya. Ia hanya seorang anak berusia sebelas tahun. Gadis kecil kelas lima SD dengan rambut dikepang. Seorang bocah yang suka berburu kupu-kupu.
Eksekusi! Lamat-lamat ia dengar kata itu. Tapi tetap saja Sanjo tidak mengerti. Perang mulut dan aksi saling mendorong tadi telah berubah menjadi arena perkelahian. Saling hantam. Saling ingin mengalahkan. Raungan mesin alat-alat berat pun mulai memperkeruh suasana. Tiba-tiba
Sanjo melihat ratusan atau bahkan ribuan kupu-kupu berterbangan di
udara. Berputar-putar. Berkeliling-keliling.
Sanjo juga tidak mengerti. Keliaran kupu-kupu itu kian banyak dan menabur-nabur warna. Merajut udara. Berdengung dan bergelembung membentuk lengkung-lengkung. Kadang terlihat serupa pelangi. Merah, kuning, putih, hitam, tapi Sanjo kehilangan hasrat untuk menangkapnya.
Sanjo hanya merasa ada sesuatu yang begitu saja mengalir perih ke dalam dada ketika ia lihat ibunya tergeletak pingsan setelah menjerit-jerit histeris. Lalu ibu-ibu lain pun menyusul, satu-satu berjatuhan ke tanah bagai bunga-bunga gugur.
Sanjo semakin tidak mengerti. Alat-alat berat tadi mulai meruntuhkan rumah demi rumah di kompleks itu. Raungannya menjilat-jilat, mengeruk, membelai, meraba lalu menghempaskan. Tak ada yang dapat menahan. Tidak
juga ribuan kupu-kupu.
Kemudian seketika segala menjadi rata. Puing. Keping yang sia-sia. Sesuatu yang mungkin dibangun dengan sangat lama, dengan perjuangan dan peluh, kenapa tiba-tiba saja dihancurkan?
Sanjo tidak mengerti. Sanjo tidak mengerti. Kemudian senja di kota ini tak lagi merah warna. Hanya doa yang mengepul menjadi awan. Terbang dan hilang seperti diburu musim ke tahun-tahun yang mendebu. Di sini, aku masih mengingat getar rindu yang kita punya *). Sanjo merasa matanya tiba-tiba dialiri oleh sesuatu yang hangat. Leleh ke pipinya. Dan mungkin, inilah kali pertama ia lupa pada kupu-kupu. Juga Bayu.
***
Sanjo masih mengamati kupu-kupu hitam berbintik-bintik putih yang bertengger di bahunya. Haria kian senja. Entah berapa kali sudah orang-orang datang dan pergi bergantian di halte itu. Sanjo tetap tidak peduli. Matahari mulai hilang dan meninggalkan bias merah di langit. Sanjo ingin menangkap kupu-kupu itu. Pelan-pelan ia memegang sayapnya. Melihat bintik-bintiknya yang cantik. Berbicara sendiri seakan sedang bercakap-cakap. Bercerita tentang masa lalu. Tentang kompleks yang ia susuri sampai senja bersama Bayu. Ketika masih kelas lima SD. Ketika rambutnya masih dikepang.
"Kupu-kupu. Aku ingin menangkapnya. Kupu-kupu...."
Sejak peristiwa sembilan tahun yang lalu itu, Sanjo dan orang tuanya pindah ke tempat lain. Rumah kontrak. Rumah yang sama sekali tidak mampu melahirkan rasa suka dan cinta dalam diri Sanjo. Rumah yang sesak di antara gang-gang sempit dan kotor. Tak ada masa lalu. Tak ada
kupu-kupu. Juga Bayu.
Kupu-kupu itu seolah-olah asyik mendengarkan cerita Sanjo. Tapi Sanjo telah melepasnya. Sesaat ia masih berputar-putar di sekitar Sanjo. Berkeliling-keliling. Seakan-akan tidak mau pergi dari halte itu. Sanjo mencoba tersenyum. Giris memang. Dan kupu-kupu itu pun pergi. Terbang ke arah deretan ruko-ruko di seberang jalan. Ke tempat di mana
masa lalu Sanjo dirampas dengan paksa. Tempat Sanjo pernah berlarian dengan riang, bernyanyi-nyanyi, terjatuh, luka, berburu kupu-kupu.
Namun ketika negeri ini telah hangus. Mematahkan cinta dan merantainya di kepungan nasib yang di tepinya luka. Lalu kita mencoba berdiri di setiap musim yang memasa lalu. Terukir nama kita; jejak basah ketika senja! *).
Ah, bingkai-bingkai masa lalu yang indah, yang pernah menceburkan dalam mandi-mandi yang girang, yang dulu menggambar kenangan demi kenangan di dada Sanjo. Kini semua begitu saja seolah-olah bertukar warna menjadi hitam yang pahit. Pedih dan sia. Ditatapnya kembali deretan ruko-ruko yang berjejer rapi di seberang jalan. Sanjo menangis. Ia rasa dadanya telah cabik. Masa lalu. Kupu-kupu.
Lalu Sanjo berjalan meninggalkan halte itu. Dan berharap suatu hari nanti ia akan bertemu kembali dengan Bayu.
"Kupu-kupu. Aku ingin menangkapnya. Kupu-kupu...."
***
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar